Kalau kamu pernah melihat monyet yang tersenyum sambil foto selfie, yup itu dia si monyet Yaki. Fotonya yang viral sempat menjadi perdebatan mengenai siapa pemilik hak cipta dari foto tersebut.

Macaca pagensis
Beruk mentawai
Yaki, Wolai, Bolai
–
IUCN: Critically Endangered
CITES: Appendix II
Kalau kamu pernah melihat monyet yang tersenyum sambil foto selfie, yup itu dia si monyet Yaki. Fotonya yang viral sempat menjadi perdebatan mengenai siapa pemilik hak cipta dari foto tersebut.
Kalau ngomongin bentuk tubuhnya, yaki atau Macaca nigra ini punya penampilan yang unik dan gampang banget dikenali.
Secara fisik, tubuhnya terlihat kekar dan berotot, dengan bulu hitam pekat yang menutupi hampir seluruh badan. Di atas kepalanya ada jambul khas yang jadi ciri khasnya. Wajahnya gelap, moncongnya agak menonjol, dan pipinya terlihat cekung. Uniknya, bayi yaki lahir dengan wajah berwarna merah muda, lalu perlahan berubah jadi hitam seiring bertambahnya usia.
Monyet yaki juga dikenali dari bentuk bantalan duduk yang menyerupai bentuk hati serta berwarna merah muda. Saat birahi, warna bantalan duduk ini akan berubah lebih merah pada yaki betina.

Kalau soal ukuran, jantan biasanya lebih besar dari betina dan punya taring yang lebih panjang. Panjang tubuh jantan berkisar 50–57 cm dengan berat 10,2–13 kg, sementara betina sekitar 44,5–55 cm dengan berat 5,5–8 kg. Ekornya sangat pendek, cuma sekitar 2 cm saja. Karena ekornya nyaris nggak kelihatan, banyak orang salah sangka dan menyebut mereka “black apes”, padahal sebenarnya mereka tetap termasuk monyet, bukan kera.
Monyet yaki dapat ditemukan di Sulawesi Utara, mulai dari Gunung Dua Sudara, Manembo-nembo, Kotamobau dan Mondayag. Mereka juga dapat ditemukan di Pulau Bacan, yang diduga merupakan bentuk introduksi dari Sulawesi Utara.
Mereka tinggal di hutan primer, namun juga ada beberapa monyet yang ditemui di hutan sekunder dan perkebunan.
Sama seperti kebanyakan monyet lain (dan manusia), yaki atau Macaca nigra itu aktif di siang hari alias diurnal. Menariknya, mereka lebih suka beraktivitas di tanah dibanding di pohon. Sekitar 60% waktunya dihabiskan buat cari makan, main, bersosialisasi, dan jalan-jalan di lantai hutan. Cara bergeraknya pakai empat kaki (quadrupedal), baik saat di tanah maupun ketika naik ke pohon. Dalam sehari, mereka bisa menjelajah area sampai sekitar 350 hektare, luas banget!
Soal kehidupan sosial, yaki hidup dalam kelompok besar yang bisa berisi 60–80 individu. Dalam satu kelompok ada banyak jantan dan betina, dipimpin oleh satu jantan dominan atau alpha male. Meski begitu, jumlah betina biasanya lebih banyak dibanding jantan.

Untuk berkomunikasi yaki punya suara khas, bunyinya “ko ko ko ko”.
Suara ini bisa dipakai buat berinteraksi biasa, tapi juga dikeluarkan saat ada ancaman atau ketika mereka ingin menunjukkan dominasi dan kekuatan.
Sama kayak monyet lain, yaki juga makan berbagai bagian tamanan kayak daun, bunga, biji dan buah-buahan. Kadang mereka juga suka nyari keong-keongan buat makanan. Kalau di kebun, yaki suka ditemukan lagi makan kelapa, mangga dan tebu.
Mereka punya cara interaksi unik dalam berkomunikasi, yaitu mengecap bibir (lip smacking). Ini cara mereka ngehormatin dan ramah sama monyet lainnya.
Monyet yaki sering dipanggil “Punk-Rock Primates” atau primata punk-rock karena bentuk jambulnya yang kayak anak punk. Ngepunk banget!
Bayi monyet yaki bakal diurus gak cuma sama ibunya aja, tapi juga sama betina lainnya. Perilaku ini disebutnya “Aunting”.
Supriatna, J. (2019). Field Guide to The Indonesia Primates. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Beruk mentawai

Monyet siberut

Monyet dare

Monyet gorontalo

Monyet dige

Monyet jambul

Monyet muna-butung

Monyet butung

Monyet ekor panjang

Beruk