Kalau ngomongin monyet Sulawesi, Macaca hecki bisa dibilang sedikit misterius. Alasannya, dibanding sepupunya seperti Macaca nigra atau Macaca tonkeana, jenis monyet ini justru belum banyak diteliti. Mulai dari perilaku, pola makan, sampai kehidupan sosialnya masih menyimpan banyak tanda tanya.
Monyet dige makan hampir semua bagian tumbuhan seperti daun, pucuk, bunga, buah, sampai umbi. Monyet ini juga makan serangga, moluska, bahkan kadang hewan kecil. Hidupnya berkelompok sekitar 10–15 individu, dengan sistem sosial di mana jantan dewasa biasanya keluar dari kelompok asalnya, sementara betina tetap tinggal.
Monyet dige punya wilayah jelajah luas (lebih dari 100 hektar) dan termasuk semi-terestrial. Mereka bisa aktif di pohon, tapi juga lincah banget di lantai hutan, bahkan lebih cepat bergerak di tanah. Pohon dipakai untuk makan dan tidur, biasanya di cabang utama. Mereka bergerak dengan empat anggota tubuh atau quadrupedal.
Aktivitasnya siang hari (diurnal), dan mereka cukup berani masuk ke kebun warga, terutama ladang jagung dan kebun coklat. Karena itu, mereka sering dianggap hama dan diburu oleh masyarakat sekitar.
Uniknya, sebelum masuk kebun, jantan dominan biasanya mengintai keadaan dulu dari atas pohon. Mereka juga punya suara teriakan panjang berulang (“pi… pi… pi…”) yang dipakai sebagai alarm bahaya atau saat menghadapi kelompok lain.









