Edukasi Konservasi Monyet

Macaca fuscata

Monyet Jepang

Nama umum

Japanese Macaque

Subspesies

  • M. fuscata fuscata
  • M. fuscata yakui

Status Konservasi

IUCN: Least Concern
CITES: Appendix II

Pernah lihat monyet yang suka berendam? inilah yang dilakukan oleh monyet jepang saat musim dingin. Yang paling ikonik, mereka adalah satu-satunya monyet yang diketahui rutin berendam di mata air panas, cara “pintar” untuk mengurangi stres akibat cuaca dingin, yang bahkan bisa berdampak ke kesehatan dan reproduksi.

Morfologi dan Perawakan

Macaca fuscata dikenal dengan wajah dan bagian belakang berwarna merah muda serta ekor yang pendek. Spesies ini menunjukkan sexual dimorphism, di mana jantan umumnya lebih besar dan lebih berat dibanding betina. Rata-rata berat jantan sekitar 11,3 kg, sedangkan betina 8,4 kg. Menariknya, individu yang hidup di wilayah utara Jepang yang lebih dingin cenderung bertubuh lebih besar dibanding yang hidup di daerah hangat.

Panjang tubuh jantan rata-rata sekitar 57 cm, sedikit lebih panjang dari betina yang sekitar 52 cm. Ekornya pendek, hanya sekitar 9 cm pada jantan dan sedikit lebih pendek pada betina. Untuk umur, jantan bisa hidup hingga sekitar 28 tahun dan betina hingga 32 tahun, meskipun di alam liar rata-ratanya jauh lebih singkat.

Bayi lahir dengan berat sekitar 500-an gram, dengan bulu cokelat gelap yang perlahan memudar dalam enam bulan pertama, meski masih terlihat lebih gelap dibanding individu dewasa.

Habitat & Sebaran

Macaca fuscata adalah primata asli Jepang yang hidup di tiga pulau utama yaitu Honshu, Shikoku, dan Kyushu, serta beberapa pulau kecil di sekitarnya. Populasi paling Selatan berada di Pulau Yakushima dan dikenal sebagai subspesies Macaca fuscata yakui.

Menariknya, pada tahun 1972 sekitar 150 individu dipindahkan dari Arashiyama (dekat Kyoto) ke Laredo, Texas. Di habitat semak kering, mereka berhasil beradaptasi dan populasinya sempat berkembang pesat.

Di Jepang sendiri, persebarannya makin meluas, sebagian karena mereka mulai terbiasa dengan kehadiran manusia, ditambah perubahan sosial dan ekonomi. Mereka bisa hidup di berbagai habitat, mulai dari hutan gugur dan hutan evergreen di dataran rendah subtropis hingga wilayah sub-alpin sampai ketinggian sekitar 1.500 mdpl.

Soal makanan, mereka sangat fleksibel. Mulai dari buah, daun, beri, biji, sampai serangga, hewan kecil, tanaman budidaya, bahkan kulit kayu.

iucnredlist.org

Perilaku dan Sosial

Monyet jepang punya gaya hidup yang aktif dan sosial banget. Mereka bergerak dengan empat kaki dan termasuk semi-terestrial. Betina lebih sering di pohon, sementara jantan lebih banyak di tanah. Mereka juga perenang handal, bahkan bisa menempuh jarak lebih dari setengah kilometer.

Struktur sosialnya matrilineal, jadi betina tetap di kelompok asal seumur hidup, sementara jantan akan keluar saat dewasa. Satu kelompok biasanya berisi banyak jantan dan betina, dengan komposisi yang cukup seimbang antara dewasa, remaja, dan bayi. Hierarkinya ketat, dipimpin jantan alfa yang punya akses kawin terbesar sekaligus tanggung jawab melindungi kelompok. Di sisi lain, ada juga alfa betina yang memegang posisi tertinggi di antara betina, dan statusnya bisa diturunkan ke anaknya.

Jantan muda biasanya meninggalkan kelompok sekitar usia 5-6 tahun, lalu bisa berpindah-pindah bahkan hingga jarak lebih dari 100 km. Ada juga jantan yang hidup sendiri atau membentuk kelompok khusus jantan. Saat dua kelompok bertemu, mereka cenderung saling menghindar, meskipun konflik bisa terjadi, biasanya terkait pasangan, makanan, atau perpindahan anggota.

Interaksi sosial mereka kuat, terutama lewat grooming yang penting untuk mempererat hubungan. Menariknya, teknik grooming ini dipelajari dari induk, bukan bawaan lahir.

Untuk reproduksi, mereka bersifat musiman (sekitar September-April), tapi betinalah yang menentukan apakah perkawinan terjadi. Betina bisa berpasangan dengan beberapa jantan, dan biasanya jantan berperingkat tinggi punya durasi hubungan lebih lama. Selama musim kawin, ada perubahan mencolok yakni wajah dan area genital jadi merah terang, baik pada jantan maupun betina.

Hubungan induk dan bayi cenderung lebih “private” atau tidak terlalu terbuka dengan anggota lain saat awal kelahiran. Induk baru perlahan kembali ke aktivitas sosial setelah melahirkan. Dalam komunikasi, mereka punya banyak jenis suara, mulai dari yang menenangkan sampai agresif, tapi menariknya lebih dari setengah vokalisasinya bersifat damai.

Fakta Unik

Macaca fuscata punya adaptasi yang keren banget buat hidup di dingin. Bulu mereka bisa makin tebal saat suhu turun, bahkan memungkinkan mereka bertahan di suhu ekstrem hingga -20°C.

Soal perilaku, mereka juga terkenal cerdas dan suka meniru. Ada yang belajar mencuci ubi di air untuk menghilangkan pasir, lalu kebiasaan itu menyebar ke anggota kelompok lain. Mereka juga terlihat bermain salju, seperti membuat bola salju, yang juga ditiru satu sama lain. Bahkan, induk bisa mengenali suara anaknya sendiri di antara banyak bayi lain.

Menariknya lagi, di Jepang mereka punya tempat khusus dalam budaya. Dalam kepercayaan Shinto, mereka kadang diasosiasikan dengan makhluk mitos raijū, pendamping dewa petir Raijin. Mereka juga dikenal lewat simbol Three Wise Monkeys : “tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mengatakan kejahatan”yang diukir di Nikkō Tōshōgū sejak abad ke-17.

Referensi

Abe H, Ishii N, Ito T, Kaneko Y, Maeda K, Miura S, Yoneda M, 2005. A Guide to the Mammals of Japan. Tokai University Press, Kanagawa, Japan.

Bardi M, Shimizu K, Fujita S, Borgognini-Tarli S, dan Huffman MA. 2001. Social behavior and hormonal correlates during the perinatal period in Japanese macaques. Hormones and Behavior. 39(3), 239-246.

Fedigan LM, Asquith PJ. 1991. The monkeys of Arashiyama: thirty-five years of research in Japan and the West. Albany: State University of New York Press.
Fedigan, L. M., Gouzoules, H., dan Gouzoules, S. 1983. Population dynamics of Arashiyama west Japanese macaques. International journal of primatology, 4(3), 307-321.

Fedigan LM, Pavelka MSM. 2001. Is there adaptive value to reproductive termination in Japanese macaques? A test of maternal investment hypotheses. International Journal of Primatology, 22(2), 109-125.

Fooden, J., dan Aimi, M. 2005. Systematic review of Japanese macaques, Macaca fuscata (Gray, 1870). Fieldiana Zoology, 2005(104), 1-198.

Hamada Y, Watanabe T, Iwamoto M. 1996. Physique index for Japanese macaques (Macaca fuscata): age change and regional variation. Anthropological Science, 104(4), 305-323.

Huffman, M. A. 1992. Influences of female partner preference on potential reproductive outcome in Japanese macaques. Folia Primatologica, 59(2), 77-88.

Huffman, M. A., dan Quiatt, D. 1986. Stone handling by Japanese macaques (Macaca fuscata): implications for tool use of stone. Primates, 27(4), 413-423.

Hiraiwa M. 1981. Maternal and alloparental care in a troop of free-ranging Japanese monkeys. Primates, 22(3), 309-329.

Hori T, Nakayama T, Tokura H., Hara F., dan Suzuki M. (1977). Thermoregulation of the Japanese macaque living in a snowy mountain area. The Japanese Journal of Physiology, 27(3), 305-319.

Itani, J., Tokuda, K., Furuya, Y., Kano, K., dan Shin, Y. (1963). The social construction of natural troops of Japanese monkeys in Takasakiyama. Primates, 4(3), 1-42.
IUCN. 2020. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2025-2. Available at: www.iucnredlist.org. (Accessed: 26 February 2026).

Kawanaka, K. (1973). Intertroop relationships among Japanese monkeys. Primates, 14(2), 113-159.

Majolo, B., Ventura, R., dan Koyama, N. (2005). Postconflict behavior among male Japanese macaques. International Journal of Primatology, 26(2), 321-336.

Rowe N. 1996. The Pictorial Guide to the Living Primates. New York (US): Pogonias Press.

Saito, C., Sato, S., Suzuki, S, Sugiura H, Agetsuma, N., Takahata, Y., … dan Yamagiwa, J. (1998). Aggressive intergroup encounters in two populations of Japanese macaques (Macaca fuscata). Primates, 39(3), 303-312.

Shizawa, Y., Nakamichi, M., Hinobayashi, T., dan Minami, T. (2005). Playback experiment to test maternal responses of Japanese macaques (Macaca fuscata) to their own infant’s call when the infants were four to six months old. Behavioural processes, 68(1), 41-46.

Sugiyama, T. (1973). Purification, molecular, and catalytic properties of pyruvate phosphate dikinase from the maize leaf. Biochemistry, 12(15), 2862-2868.

Takahata Y, Suzuki S, Agetsuma N, Okayasu N, Sugiura H, Takahashi H, Sprague DS. 1998. Reproduction of wild Japanese macaque females of Yakushima and Kinkazan Islands: a preliminary report. Primates, 39(3), 339-349.

Tanaka, I. (1995). Matrilineal distribution of louse egg‐handling techniques during grooming in free‐ranging Japanese macaques. American Journal of Physical Anthropology, 98(2), 197-201.

Watanabe, K., Mori, A., dan Kawai, M. (1992). Characteristic features of the reproduction of Koshima monkeys, Macaca fuscata fuscata: a summary of thirty-four years of observation. Primates, 33(1), 1-32.

Watanabe K, Muroyama Y. 2005. Recent expansion of the range of Japanese macaques and associated management problems. American Society of Primatologists.

Wolfe, L. (1979). Behavioral patterns of estrous females of the Arashiyama West troop of Japanese macaques (Macaca fuscata). Primates, 20(4), 525-534.
Yamada, A., dan Muroyama, Y. (2010). Effects of vegetation type on habitat use by crop-raiding Japanese macaques during a food-scarce season. Primates, 51(2), 159-166.

Yoshimi, I., dan Takasaki, H. (2003). Long distance mobility of male Japanese macaques evidenced by mitochondrial DNA. Primates, 44(1), 71-74.

Kenali Monyet Lainnya