Edukasi Konservasi Monyet

Ilusi Kasih Sayang, Realitas Memelihara Primata Ilegal

Sumber dari internet

Selamat datang di panggung sirkus digital, panggung eksploitasi primata terbesar di Indonesia. Mengapa tidak? Coba bayangkan, ketika kamu mengetuk kolom pencarian pada platform sosial media mu dan mengetikkan “monyet atau beruk peliharaan”, maka akan muncul konten-konten monyet dan beruk yang lucu dengan pakaiannya, betapa menggemaskan bukan? Apalagi, ada satu video menarik pada platform TikTok yang menampilkan individu monyet ekor panjang sedang panik melahap kerupuk pada sebuah lomba agustusan. 

Video itu meraup 20 ribu lebih ‘suka’ dengan total 609 komentar. Kata-kata ‘gemes banget’, ‘ih lucu’, dan ‘jadi pengen pelihara deh’ adalah rerata komentar yang dilontarkan. Ini adalah pemandangan yang kita kenali, sebuah hiburan digital yang tampak polos. Namun, di balik setiap tawa dan ketukan ‘suka’, ada sebuah transaksi gelap yang sedang berlangsung. Ini adalah kisah tentang bagaimana ‘kegemasan’ menjadi mata uang baru untuk menormalkan kekejaman, dan bagaimana hiburan singkat di linimasa kita memicu rantai penderitaan dari hutan hingga ke rumah, sebuah rantai yang ujungnya bisa berbalik mengancam kesehatan kita sendiri.

Fenomena ini bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan hasil dari normalisasi yang terjadi secara terus-menerus dalam masyarakat. Shahnaz Dinda dari Garda Animalia menyampaikan hal serupa. Menurutnya, tantangan terbesar dalam isu ini adalah normalisasi itu sendiri. Narasi ‘satwa menggemaskan’ dalam memelihara satwa liar sudah begitu biasa dan digemari oleh ratusan, bahkan ribuan pengguna media sosial. Ribuan ‘suka’ dan ratusan komentar positif pada konten-konten primata memperlihatkan bahwa normalisasi telah terjadi. Kemungkinan terburuknya adalah pergeseran persepsi bahwa memelihara satwa liar adalah hal yang lumrah, bahkan publik pada akhirnya tidak sadar bahwa konten-konten tersebut merupakan bentuk eksploitasi. Konten viral inilah yang mendorong peningkatan permintaan pasar terhadap primata, sehingga terciptanya suatu tren pada media sosial. Ismail Agung Rusmadipraja dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berpendapat serupa. Agung mengasumsikan bahwa tren pemeliharaan primata, terutama Monyet Ekor Panjang dan Beruk, di media sosial berpengaruh langsung terhadap permintaan di pasaran. Sehingga, terjadinya peningkatan perdagangan ilegal. Pendapat ini didukung oleh data yang diperlihatkan oleh kukangku.idSemakin tinggi konten pemeliharaan monyet, semakin banyak orang yang memelihara monyet. Peningkatan ini terlihat pada platform Instagram di mana pada tahun 2019 hanya terdapat 45 akun aktif, kemudian meningkat pada tahun 2020 menjadi 178 akun, dan meningkat kembali menjadi 275 akun di 2021. Selain itu, pada tahun 2020 hingga 2021, telah tercatat sebanyak 6,258 monyet diperjualbelikan di Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa normalisasi memelihara primata pada media sosial, berujung pada perdagangan ilegal.

Hulu ke Hilir Penyiksaan Primata

Menormalisasikan memelihara primata merupakan sebuah tragedi berantai. Di hulu, untuk mendapatkan bayi primata yang lucu dan menggemaskan, induknya hampir pasti dibunuh saat proses perburuan. Di tengah proses menuju ke hilir, perlakuan para pedagang terhadap primata ini sering kali tidak terungkap, namun salah satu metode yang umum digunakan untuk membuat mereka patuh adalah dengan melatihnya saat mereka dalam kondisi lapar. 

“…..kalo mau dilatih, harus dibuat lapar dulu. Tapi, kalo ga nurut jangan dipukul keras-keras.” ujar SPN, seorang penjual monyet di Pasar Sukahaji Bandung.       

Di hilir, ketika primata sudah berada di tangan pemelihara, penderitaan mereka baru dimulai. drh. Atiqotul Masna Maula Alfariah, seorang dokter hewan lulusan Universitas Brawijaya, menekankan bahwa memelihara satwa liar dan membuat konten tentangnya merupakan bentuk eksploitasi. Perilaku ini melanggar lima kebebasan hewan (five freedoms of animal welfare), yaitu bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit, bebas mengekspresikan perilaku alami, dan bebas dari rasa takut dan stres. Primata yang dipaksa memakai pakaian, popok, dirantai, dan dikurung dalam kandang sempit adalah bentuk penyiksaan yang menyebabkan stress kronis hingga trauma permanen. 

“MEP dan Beruk adalah spesies sosial dan cerdas. Eksploitasi secara psikologis dapat menyebabkan stres, terbentuknya perilaku agresif hingga trauma permanen.” ujarnya. 

Bentuk-bentuk penyiksaan lain yang sering disalahpahami sebagai kasih sayang adalah pemberian makanan yang disamakan dengan manusia. Nasi, rendang, atau kerupuk bukan makanan alami mereka, dan merupakan makanan berbahaya. drh. Atiqotul menjelaskan bahwa makanan manusia yang tinggi gula, garam, dan lemak sangat tidak cocok bagi primata, dan tentu dapat menyebabkan obesitas hingga malnutrisi serius. Meski primata tersebut terlihat menikmati dan kenyang, mengonsumsi makanan tersebut tidak memenuhi kebutuhan nutrisi mereka. Praktik ini bukanlah bentuk sebuah kasih sayang, melainkan bentuk kekerasan terhadap satwa.

Sumber istimewa

Risiko Diambilnya Primata dari Habitat Aslinya

Perburuan ilegal tentu berdampak besar bagi primata, terutama dalam mengurangi populasi sehingga lebih cepat mengalami kepunahan. Selain itu, dampak ini pun terasa bagi ekosistem keseluruhan. Dikutip dari Pentingnya Pengetahuan Dasar Primata dan Peran Budaya dalam Konservasi Monyet Ekor Panjang yang dipublikasikan oleh Unairnews, primata terutama monyet ekor panjang memiliki peranan yang penting dalam penyemaian biji dari buah-buahan. Ketika populasi mereka menurun, fungsi ekologis vital ini hilang, yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan dan degradasi hutan.

Risiko lain yang tak kalah serius muncul ketika primata beralih dari habitat alami ke tangan pemelihara, yaitu ancaman penyakit menular dari hewan ke manusia (zoonosis). dr. Dicky Budiman dalam Manusia dan Ancaman Penyakit Zoonosis yang Semakin Besar yang diunggah oleh Kumparan.com, menjelaskan bahwa penyakit menular ini diakibatkan seringnya manusia terpapar secara langsung dengan satwa liar. Menurutnya, penyakit ini memiliki risiko yang tinggi, hingga dapat menimbulkan epidemi. Sebagai contoh, terjadinya fenomena monkeypox (MPOX) dan COVID-19. 

Pada akhirnya, kerugian terbesar dari tren memelihara primata ini mungkin akan kembali kepada manusia. drh. Atiqotul juga menjelaskan bahwa interaksi dekat dengan primata liar meningkatkan risiko penularan penyakit, seperti herpes B, tuberkulosis (TBC), dan rabies. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah vaksin untuk herpes B dan TBC khusus untuk primata non-manusia belum tersedia secara komersial di Indonesia. Berarti, setiap cakaran atau gigitan dari peliharaan yang tampak ‘menggemaskan’ tersebut bisa menjadi risiko yang fatal. Risiko ini nyata dan seringkali diabaikan oleh para pembuat konten dan pengikutnya.

Solusi agar Normalisasi Memelihara Primata dapat Dihentikan

Penghentian sirkus digital yang menormalisasikan eksploitasi primata ini bukanlah tugas satu pihak, melainkan membutuhkan upaya bersama dari berbagai lapisan masyarakat. Sekadar melaporkan konten tidak akan pernah cukup untuk membongkar masalah yang sudah mengakar pada persepsi publik dan ekonomi di pasar gelap. 

Pemerintah selaku pemangku kebijakan perlu untuk menegaskan kembali bahwa primata, terutama monyet ekor panjang dan beruk,  merupakan satwa liar yang tidak boleh dipelihara. Daripada hanya berfokus pada status “dilindungi” pemerintah perlu membuat regulasi yang secara spesifik pada pemanfaatan satwa liar (termasuk non-dilindungi) untuk tujuan komersialisasi konten digital. Kemudian bagi para aktivis lingkungan, baik itu dari lembaga swadaya masyarakat ataupun media, diharapkan dapat dengan gencar membuat kontra narasi pada media. Perlu adanya penyadartahuan bagi masyarakat bahwa memelihara primata bukanlah suatu kebanggaan, melainkan suatu penyiksaan. 

Kolaborasi berbagai pihak ini diharapkan mampu menyadarkan masyarakat mengenai risiko-risiko dan dampak jangka panjang dari menormalisasi memelihara primata. Pada akhirnya, ujian tertinggi dari suatu kasih sayang bukanlah keinginan untuk memiliki, melainkan keberanian untuk membiarkan mereka bebas, bebas dari kandang, bebas dari rantai, dan terutama, bebas dari panggung sirkus digital yang kita ciptakan hanya demi sebuah ‘suka’ dan tawa sesaat. Mari kita bersama-sama menjaga warisan Tuhan yang dilimpahkan pada alam Indonesia agar terus terjaga hingga pulahan, ratusan, hingga ribuan tahun yang akan datang. (IWN/ED)

Referensi:

Kukangku.id. (2022). Tren Pelihara Monyet Marak di Instagram, Influencer Jadi Penyebab. Kukangku. Retrieved September 14, 2025, from https://kukangku.id/tren-pelihara-monyet-marak-di-instagram-influencer-jadi-penyebab/

Kumparan.com. (2024). Manusia dan Ancaman Penyakit Zoonosis yang Semakin Besar. Kumparan.com. https://kumparan.com/dicky-budiman/manusia-dan-ancaman-penyakit-zoonosis-yang-semakin-besar-23MvAWoYZ7d

Unairnews. (2024). Pentingnya Pengetahuan Dasar Primata dan Peran Budaya dalam Konservasi Monyet Ekor Panjang. Universitas Airlangga. Retrieved September 14, 2025, from https://unair.ac.id/pentingnya-pengetahuan-dasar-primata-dan-peran-budaya-dalam-konservasi-monyet-ekor-panjang/

Narasumber:

  1. drh. Atiqotul Masna Maula Alfariah (Dokter hewan lulusan Universitas Brawijaya)
  2. Shahnaz Dinda (Garda Animalia)
  3. Ismail Agung Rusmadipraja (Senior Manajer Edukasi dan Penyadartahuan YIARI)
  4. SPN (Pedagang ilegal monyet)

Baca Artikel Lainnya